Lea Simanjuntak Membuka “Ruang Dihatimu” di Antara Nyata dan Imajinasi
Ketika ekspresi manusia menjadi titik temu antara musik, teknologi, dan dunia visual yang imajinatif.
Musictoday – Ada masa ketika video klip hanya menjadi cara lain untuk memperpanjang usia sebuah lagu. Musik yang semula didengar kemudian diberi gambar, cerita, dan wajah. Tetapi hari ini, batas antara apa yang direkam dan apa yang diciptakan semakin tipis.
“Ruang Dihatimu”, video klip terbaru Lea Simanjuntak, bergerak di wilayah itu.
Dirilis pada 17 September 2026, video klip ini mempertemukan rekaman langsung, kecerdasan buatan generatif, dan elemen 3D. Lagu yang sebelumnya hadir di berbagai layanan musik digital sejak 9 September kini memperoleh ruang visual yang tidak sepenuhnya nyata, tetapi juga tidak sepenuhnya artifisial.
Lea hadir di padang bunga, gurun pasir hitam, pantai senja hingga hutan berkabut. Lanskap-lanskap tersebut bukan sekadar dekorasi. Ia menjadi semacam ruang batin—tempat sebuah lagu menerjemahkan perasaan ke dalam gambar.
Menariknya, teknologi dalam video ini tidak mengambil alih keberadaan manusia.
Ekspresi, gerakan, penampilan, hingga sinkronisasi bibir Lea berasal dari rekaman asli. Wajahnya pun tidak dihasilkan atau dimanipulasi AI. Teknologi justru bekerja di belakangnya: membangun lingkungan, tekstur, kedalaman, serta dunia visual yang sulit diwujudkan hanya melalui proses produksi konvensional.
Di titik ini, “Ruang Dihatimu” menjadi menarik bukan semata karena menggunakan AI, melainkan karena memperlihatkan bagaimana teknologi ditempatkan sebagai alat bantu ekspresi.
Manusia Tetap Menjadi Titik Tengah

Video musik yang menggunakan AI sering kali menghadirkan pertanyaan sederhana: seberapa jauh teknologi boleh mengambil alih karya manusia?
“Ruang Dihatimu” menawarkan pendekatan yang berbeda. Rekaman manusia menjadi fondasi, sementara AI dan 3D digunakan untuk memperluas ruang di sekelilingnya.
Pengambilan gambar dilakukan dengan latar putih dan penanda pelacakan. Adegan bawah air direkam langsung di kolam. Setelah itu, pemetaan kedalaman dan pelacakan objek digunakan untuk mengembangkan lingkungan visual melalui proses pascaproduksi.
Ada kerja teknis yang cukup kompleks di balik gambar-gambar yang tampak sederhana.
Konsistensi kostum, cahaya, perspektif, hingga pergerakan kamera harus dijaga agar dunia yang dibangun secara digital tetap terasa menyatu dengan tubuh manusia yang direkam secara nyata.
Tiga pergantian kostum Lea juga menjadi penanda babak dalam cerita.
Dengan demikian, teknologi bukan sekadar cara membuat gambar menjadi lebih spektakuler. Ia menjadi bagian dari bahasa visual untuk mengikuti perjalanan emosi sebuah lagu.
Ketika Lagu Memerlukan Ruang untuk Bernapas
“Ruang Dihatimu” sendiri berbicara tentang seseorang yang berada dalam fase jenuh, terjebak, bahkan hampir kehilangan harapan. Lalu datang sebuah momen yang mengembalikan keberanian untuk berjalan lagi.
Ada sesuatu yang sederhana dalam gagasan itu: memberi ruang kepada seseorang tanpa kehilangan ruang bagi diri sendiri.
Mungkin karena itulah lanskap yang dihadirkan terasa luas. Padang bunga, gurun, pantai, dan hutan berkabut seperti metafora dari perjalanan perasaan—dari ruang yang kering dan gelap menuju kemungkinan baru.
Musik memang sering bekerja seperti itu.
Ia tidak selalu memberi jawaban. Kadang ia hanya menyediakan ruang agar seseorang bisa mendengar kembali dirinya sendiri.
Dan video klip ini mencoba memperluas ruang tersebut melalui bahasa visual.
Lea menyebut pengalaman pengambilan gambar, termasuk adegan di dalam air, sebagai sesuatu yang unik. Keterlibatan teman-teman dari Agak Laen dalam proyek ini juga memberi warna lain. Bagi Lea, kedekatan yang sudah terbangun membuat proses kreatif terasa lebih alami.
Di balik teknologi yang terdengar futuristik, justru hubungan antarmanusia tetap menjadi bagian penting dari prosesnya.
AI Bukan Sekadar Efek

Ada kecenderungan melihat AI dalam produksi kreatif hanya sebagai jalan pintas: lebih cepat, lebih murah, atau mampu menghasilkan sesuatu yang sebelumnya sulit dibuat.
Dalam “Ruang Dihatimu”, pertanyaan yang lebih menarik justru adalah: untuk apa teknologi itu digunakan?
Alain Goenawan dan Calengklik (Galih Pratama), yang menyutradarai video ini, menggunakan AI dan aset 3D untuk membuka kemungkinan visual yang kompleks dan surealis. Rekaman asli tetap menjadi acuan bagi gerak, ekspresi, dan komposisi subjek.
Di sana ada pembagian peran yang cukup jelas.
Manusia membawa pengalaman, ekspresi, tubuh, dan emosi. Teknologi memperluas kemungkinan ruang tempat semua itu ditempatkan.
Bukan manusia melawan mesin. Bukan pula mesin menggantikan manusia.
Setidaknya dalam karya ini, keduanya ditempatkan sebagai bagian dari satu proses kreatif.
Sebuah Lagu, Sebuah Ruang
Lea Simanjuntak bukan nama baru dalam perjalanan musik Indonesia. Kariernya sejak awal 2000-an telah membawanya dari dunia vokal latar, album solo, panggung internasional, hingga teater musikal.
Karena itu, “Ruang Dihatimu” terasa seperti satu lagi perjalanan dalam eksplorasi seorang penyanyi yang tidak berhenti pada suara.
Kali ini, ruang eksplorasinya adalah pertemuan musik dan teknologi visual.
Pada akhirnya, yang menarik dari video klip ini bukan seberapa canggih AI yang digunakan. Teknologi akan terus berubah. Hari ini sesuatu terasa baru, beberapa tahun lagi mungkin menjadi hal biasa.
Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut dipakai untuk membuat sebuah lagu menemukan bentuk lain tanpa kehilangan sumber emosinya.
Sebab lagu tetap bermula dari manusia.
Dari suara. Dari pengalaman. Dari perasaan. Dan ketika semua itu kemudian diberi dunia visual yang lebih luas, barangkali yang sedang dibuka bukan hanya “Ruang Dihatimu”. Tetapi juga ruang baru bagi cara kita melihat sebuah lagu.
Kredit produksi
Artis: Lea Simanjuntak
Executive Producer: Lea Simanjuntak
Producer: Nur Satriatama
Video Directors: Alain Goenawan & Calengklik (Galih Pratama)
AI Creative Direction & Visual Development: Calengklik
Director of Photography: Fajar Winatahardja
Head Lighting: Yudifoto
Lighting Crew: Kiki Christiawan
Stylist: Rikkisi
Makeup Artist: Milson Massie
Wardrobe: Wilsen Willim
Accessories: ISSHU
Offline Editor: Chandra Riyadi
Online Editor & Colorist: Calengklik
Asset Generation: Fikri Bd
BTS Photo & Video: Bowo Hariyo, Adrian Evan
Runner: Dipo Merbabu, Ajat Sudrajat
Studio Production: Kyabin Studio