Rock n Roll Theatre, Sang Penjaga Nyawa Lagu-Lagu Indonesia
Musictoday, – Ada yang selalu lebih sunyi setelah sebuah tur berakhir. Lampu panggung dipadamkan. Kabel-kabel digulung. Alat musik kembali masuk ke dalam kotaknya. Penonton pulang membawa cerita. Para musisi melanjutkan perjalanan mereka. Namun ada satu hal yang tetap tinggal. Lagu-lagu itu.
Setelah Rock n Roll Theatre menuntaskan perjalanan tiga kotanya, tersisa sebuah pertanyaan yang jauh melampaui sukses atau tidaknya sebuah pertunjukan: siapa yang akan menjaga lagu-lagu itu setelah tepuk tangan berhenti?
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh persoalan yang sudah lama dihadapi musik Indonesia. Kita begitu produktif melahirkan lagu, tetapi belum cukup tekun merawatnya. Kita merayakan karya baru, namun sering lupa memelihara karya yang telah menjadi fondasi perjalanan musik bangsa.
Di banyak negara, lagu diperlakukan sebagai artefak budaya. Ia didokumentasikan, dipelajari, dipentaskan ulang, direstorasi, dan ditempatkan sebagai bagian dari memori kolektif. Di Indonesia, sebagian besar lagu justru bergantung pada ingatan para pendengarnya. Ketika generasi berganti dan ruang pemutaran semakin sempit, banyak karya perlahan menghilang dari percakapan publik.
Bukan karena kualitasnya memudar. Melainkan karena tidak ada cukup ruang yang terus menghidupkannya.
Di situlah Rock n Roll Theatre menemukan maknanya.
Ketika Ferdy Taher, Bongky, Jarwo, Tony, Eza Yayang, Edo Widiz, Bimo, dan Gugun menyanyikan kembali “Bermain Cinta”, “Mobil Balap”, “Bukannya Aku Takut”, “Kasih Jangan Kau Pergi”, “Jangan Jangan”, “Terlalu Manis”, “Rahasia Hati”, “Pesawat Tempur”, “Benci Untuk Mencinta”, hingga “Kamu Harus Pulang”, mereka sesungguhnya sedang melakukan pekerjaan yang sering luput disadari.
Bukan dengan rak besi, katalog, atau ruang penyimpanan yang dingin. Melainkan melalui suara, panggung, dan ribuan orang yang ikut bernyanyi.
Arsip terbaik memang bukan selalu kertas. Bukan pula sekadar data digital yang tersimpan di server. Arsip paling hidup adalah manusia yang masih hafal setiap bait lagu dan merasa kehilangan ketika lagu itu berhenti dinyanyikan.
Ironisnya, Indonesia masih belum memiliki tradisi pengarsipan musik yang kokoh. Master rekaman banyak yang hilang, dokumentasi konser tercecer, kisah para musisinya tidak seluruhnya tercatat, bahkan perjalanan lagu-lagu besar sering kali bergantung pada koleksi pribadi dan ingatan para pelakunya. Padahal, lagu bukan hanya produk industri hiburan. Ia adalah artefak kebudayaan yang merekam bahasa, zaman, cara berpikir, dan emosi masyarakat pada masanya.
Karena itu, setiap kali Rock n Roll Theatre memainkan lagu-lagu tersebut, yang mereka selamatkan bukan hanya melodi. Mereka juga menyelamatkan sepotong sejarah.
Tur tiga kota ini mungkin telah usai. Tetapi jika ada sesuatu yang patut dikenang, bukan semata jumlah penontonnya atau panjang daftar lagunya. Yang paling penting adalah kesediaan sekelompok musisi untuk memikul tanggung jawab yang semestinya juga menjadi pekerjaan ekosistem musik: memastikan warisan itu tetap terdengar.
Sebab sebuah bangsa tidak kehilangan kebudayaannya ketika berhenti mencipta. Ia mulai kehilangan dirinya ketika berhenti mengingat.
Mungkin benar, pada akhirnya semua lagu akan pulang. Namun sebuah lagu tidak pernah meminta rumah yang megah.
Ia hanya berharap masih ada suara yang bersedia menyanyikannya, panggung yang bersedia memberinya kehidupan, dan telinga yang menganggapnya bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari sejarah.
Maka ketika tirai Rock n Roll Theatre ditutup, sesungguhnya yang berakhir hanyalah pertunjukannya. Perjalanan lagu-lagu itu belum selesai. Selama masih ada yang menjaganya, sebuah lagu tidak akan pernah benar-benar menjadi masa lalu.