Ruth Sahanaya dan 100 Keping ‘Merindu’: Ketika Musik Kembali Menjadi Benda
Musictoday, – Musik hari ini terlalu mudah didapatkan. Satu klik, sebuah lagu hadir. Satu geser, lagu itu berganti. Jutaan katalog berada di dalam genggaman, tetapi justru karena terlalu mudah, musik kadang kehilangan satu hal penting: kesempatan untuk dirindukan.
Di titik itulah Merindu milik Ruth Sahanaya terasa menarik.
EP yang menandai kembalinya Ruth setelah sekitar delapan tahun tidak merilis album solo ini memang akan hadir di berbagai platform digital pada 4 September 2026. Namun ada satu keputusan yang membuatnya lebih dari sekadar rilisan baru: Merindu juga akan dicetak dalam format piringan hitam, hanya 100 keping.
Bukan seribu. Bukan sepuluh ribu. Seratus.
Setiap keping diberi nomor seri 001 sampai 100. Sebuah keputusan sederhana yang mengubah status musik dari file menjadi artefak.
Di era ketika album bisa disimpan tanpa benar-benar dimiliki, vinyl menawarkan pengalaman yang berbeda. Ia membutuhkan ruang, perangkat, waktu, bahkan sedikit kesabaran. Musik tidak langsung muncul dari layar. Ada piringan yang diputar, jarum yang diturunkan, lalu suara yang perlahan mengisi ruangan.
Di situlah paradoks Merindu bekerja.
Karyanya lahir di zaman streaming, tetapi sebagian tubuhnya memilih tinggal di masa ketika musik masih memiliki bentuk.
Jeffry Waworuntu, suami, manajer sekaligus produser eksekutif Ruth, menyiapkan vinyl tersebut sebagai kejutan untuk Ruth sekaligus memenuhi salah satu cita-cita lamanya: memiliki karya dalam format piringan hitam.
Maka 100 keping itu sebetulnya bukan hanya soal strategi pasar. Ada persoalan personal di dalamnya. Sebuah impian lama seorang penyanyi akhirnya mendapatkan bentuk fisiknya.
Dan mungkin karena itu pula, vinyl Merindu tidak perlu dibaca semata sebagai barang koleksi.
Ia adalah penanda.
Penanda bahwa di tengah industri musik yang mengejar angka streaming, masih ada ruang untuk pengalaman yang lebih intim. Bahwa sebuah album masih bisa menjadi benda yang disimpan di rak, bukan sekadar judul yang lewat di layar.
Menariknya, gagasan mendengar dengan lebih intim sudah terlihat sebelum Merindu dirilis. Ruth mengundang 20 pendengar terpilih dalam sebuah intimate listening party. Mereka diberi kesempatan mendengarkan materi sekaligus memberikan tanggapan melalui aktivitas “Phone of Friends” dan “Drop Box”.
Ada upaya mengembalikan musik kepada pendengarnya sebelum musik itu dilempar kepada algoritma.
Ini penting.
Sebab persoalan musik hari ini bukan lagi bagaimana membuat orang bisa mendengar. Teknologi sudah menyelesaikan persoalan itu.
Tantangannya justru: bagaimana membuat orang mau berhenti dan benar-benar mendengar?
Enam lagu dalam Merindu—“Aku Merindu”, “Terserah Kamu”, “Aku Tak Sanggup”, “Pagi”, “Sebaris Lirik Cinta”, dan “Pelangi”—akhirnya berada di dua dunia.
Digital untuk menjangkau sebanyak mungkin telinga.
Vinyl untuk menemukan sedikit telinga yang bersedia tinggal lebih lama.
Di sinilah rilisan fisik menemukan relevansinya kembali. Ia tidak harus mengalahkan streaming. Ia justru melengkapinya.
Streaming menjadikan musik mudah diakses. Vinyl menjadikan musik terasa dimiliki.
Dan dalam industri yang semakin digital, rasa memiliki itu bisa menjadi nilai ekonomi sekaligus emosional.
Seratus keping Merindu mungkin tidak akan mengubah peta industri musik Indonesia. Tetapi ia menunjukkan sesuatu yang lebih menarik: bahwa musik tidak selalu harus dijual dalam jumlah besar untuk dianggap bernilai.
Kadang kelangkaan menciptakan cerita.
Nomor 001 akan berbeda dari 100. Bukan karena musik di dalamnya berbeda, melainkan karena perjalanan benda itu menjadi bagian dari sejarah kecil pemiliknya.
Barangkali kelak, ketika katalog digital semakin penuh dan lagu-lagu semakin mudah hilang di antara rekomendasi algoritma, benda-benda semacam inilah yang justru menjadi pengingat bahwa sebuah karya pernah hadir.
Ada waktunya musik didengar. Ada waktunya musik dirindukan. Dan ada waktunya musik perlu kembali menjadi benda agar kita ingat bagaimana rasanya memiliki sebuah lagu. Merindu Ruth Sahanaya memilih jalan itu.