Tantowi Yahya Bawa Diplomasi Budaya Indonesia ke Eropa Lewat Strings of Equator
Musik kembali mengambil peran di luar panggung pertunjukan. Kali ini, musik menjadi bagian dari upaya memperkenalkan wajah Indonesia kepada dunia melalui diplomasi budaya.
Hal tersebut dilakukan tokoh musisi country Indonesia Tantowi Yahya bersama Thomshell Band melalui Strings of Equator: A Musical Journey to Indonesia, rangkaian konser yang akan berlangsung di Norwegia, Spanyol, dan Belanda pada 24 Agustus hingga 7 September 2026.
Program ini menggabungkan musik, narasi budaya, promosi pariwisata, hingga peluang investasi Indonesia dalam satu rangkaian diplomasi publik. Konsep tersebut membuat Strings of Equator tidak sekadar menjadi konser, tetapi sebuah upaya membawa cerita tentang Indonesia ke ruang internasional.
Dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (19/8/2026), Menteri Kebudayaan Fadli Zon turut hadir dan memberikan dukungan terhadap misi diplomasi budaya tersebut.
Dukungan Menteri Kebudayaan memperlihatkan bahwa musik dan seni memiliki posisi strategis dalam memperkenalkan identitas Indonesia di tengah pergaulan global. Terlebih, Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam dan membutuhkan cara kreatif untuk terus diperkenalkan kepada masyarakat internasional.
Musik sebagai Bahasa Diplomasi
Strings of Equator menghadirkan lagu-lagu Indonesia, lagu daerah, karya internasional, serta narasi budaya dalam satu pertunjukan. Format tersebut dirancang agar audiens Eropa tidak hanya menikmati musik, tetapi juga mendapatkan gambaran mengenai keragaman budaya Indonesia.
Bagi Tantowi Yahya, musik memiliki kemampuan untuk melewati batas bahasa, geografis, bahkan kepentingan politik.
“Musik adalah jembatan paling universal antarbangsa. Melalui ‘Strings of Equator’, kami ingin menyampaikan bahwa Indonesia bukan hanya negara dengan kekayaan budaya yang luar biasa, tetapi juga mitra strategis yang siap berdialog dengan dunia, baik dalam ranah pariwisata maupun investasi.”
Pernyataan tersebut mempertegas posisi musik sebagai instrumen soft power. Ketika lagu dan kebudayaan dibawa ke luar negeri, yang ikut diperkenalkan bukan hanya karya seni, tetapi juga identitas dan cara Indonesia membangun hubungan dengan masyarakat internasional.
Tiga Negara, Satu Cerita Indonesia
Rangkaian konser akan dimulai di Victoria National Jazz Scene, Oslo, pada 24 Agustus 2026.
Selanjutnya, Strings of Equator hadir di Hotel Indalo Park, Santa Susanna, Barcelona, pada 28 Agustus, 31 Agustus, dan 1 September. Rangkaian tersebut kemudian berlanjut ke Resepsi Diplomatik KBRI Den Haag di Wisma Duta RI, Wassenaar, Belanda, pada 4 September 2026.
Penampilan di Santa Susanna juga memiliki arti khusus. Tahun ini menjadi tahun ketiga secara berturut-turut Tantowi Yahya tampil di kota tersebut.
Keberlanjutan ini menunjukkan bahwa diplomasi budaya bukan pekerjaan sekali jalan. Relasi budaya membutuhkan konsistensi, perjumpaan berulang, dan kemampuan membangun kepercayaan dengan publik internasional.
Ketika Budaya Bertemu Pariwisata dan Investasi
Musictoday, – Yang membuat Strings of Equator menarik adalah cakupan misinya.
Konser tidak berdiri sendiri sebagai agenda seni. Di dalamnya terdapat pesan tentang pariwisata dan investasi Indonesia.
Melalui musik, audiens Eropa diajak mengenal Indonesia sebagai negara dengan keragaman budaya yang besar sekaligus destinasi wisata dan mitra ekonomi yang potensial.
Pendekatan seperti ini menjadi penting ketika diplomasi tidak lagi hanya berlangsung melalui pertemuan formal antarpemerintah. Seni, musik, kuliner, film, fesyen, hingga industri kreatif dapat menjadi pintu masuk untuk membangun persepsi positif tentang sebuah negara.
Dukungan Ekosistem Kebudayaan
Strings of Equator mendapatkan dukungan Kementerian Kebudayaan RI melalui Dana Indonesiana, serta dukungan dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., PT Pertamina (Persero), dan Yayasan Kesetiakawanan dan Keadilan Sosial.
Kehadiran berbagai pihak tersebut menunjukkan bahwa diplomasi budaya membutuhkan ekosistem.
Pemerintah memberikan dukungan kebijakan dan kebudayaan, pelaku seni membawa kreativitas serta narasi Indonesia, sementara sektor korporasi ikut mengambil bagian dalam memperluas kehadiran Indonesia di panggung global.
Tantowi menilai kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dari model diplomasi budaya yang berkelanjutan.
“Dukungan dari Kementerian Kebudayaan melalui Dana Indonesiana, BRI, Pertamina, dan Yayasan Kesetiakawanan dan Keadilan Sosial menjadi penanda penting bahwa diplomasi budaya Indonesia kini dijalankan dengan dukungan ekosistem yang utuh dari pemerintah, sektor korporasi, sektor sosial, dan pelaku seni profesional. Inilah model diplomasi yang berkelanjutan dan dapat direplikasi.”
Membawa Musik Indonesia Lebih Jauh
Pada akhirnya, Strings of Equator membawa satu gagasan sederhana: Indonesia tidak cukup hanya dikenal karena kekayaan budayanya. Kekayaan tersebut harus terus dibawa keluar, dipertunjukkan, diceritakan, dan diberi ruang untuk berdialog dengan dunia.
Musik menjadi salah satu jalannya.
Dan ketika seorang musisi berdiri di panggung Eropa membawa lagu-lagu Indonesia, yang hadir sesungguhnya bukan hanya sebuah pertunjukan.
Ada identitas, cerita, pariwisata, ekonomi, dan wajah Indonesia yang ikut berjalan bersamanya.
Musik dimainkan di atas panggung. Tetapi diplomasi bekerja jauh setelah musik berhenti.